Sumang Peropohen

Spread the love

“Aktualisasi Budaya Sumang Peropohen dan Relevansinya dengan Syariat Islam”

  1. Pengertian Sumang Peropohen

“Sumang”, sepotong kata yang tidak diketahui makna dan asal katanya, kata yang sepadan pun belum diketahui, apakah ada atau tidak! Sumang adalah kata dari suku bangsa Gayo yang telah lama menjadi ocehan masyarakatnya. H. Mahmud Ibrahim dan AR Hakim dalam bukunya Syari’at dan Adat Istiadat Gayo menyebutkan bahwa sumang adalah perbuatan atau tingkah laku yang melanggar nilai dan norma agama serta adat istiadat Gayo.
Dengan demikian sumang adalah sistem nilai adat Gayo yang masuk dalam sistem pendidikan sosial kemasyarakatan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem pendidikan ini telah lama berjalan dalam kehidupan bermasyarakat, pun demikian pola pendidikan ini tidak diperoleh melalui materi yang disampaikan dalam ruangan kelas atau pada forum-forum ilmiah, tetapi pola pendidikan ini merupakan pola pendidikan masyarakat dengan bentuk kontrol individu dan kelompok untuk membimbing masyarakat dalam menjalankan kehidupan yang beradab.
Masyarakat Gayo dengan sumangnya bertujuan mendidik generasi bangsa ini menjadi manusia yang berakhlak mulia. Perbuatan sumang adalah perbuatan tercela tidak hanya di mata masyarakat tetapi juga di mata Agama. Oleh karena itu sumang merupakan salah satu jalan amar ma’ruf nahi munkar untuk menjaga lingkungan sosial kemasyarakatan menjadi masyarakat yang beradab dan bernilai islami. Itulah mengapa adat gayo sering disebut tidak terlepas dari nilai-nilai luhur agama, pepatah Gayo menyebut “Agama urum edet lagu zet urum sifet”.
Disini kami akan khusus membahas tentang sumang peropohen. Sumang peropohen adalah aturan-aturan yang berhubungan dengan cara berpakaian yang baik dan benar yang telah diatur dalam adat Gayo. Hal ini bertujuan agar kelihatan sopan dan tidak menimbulkan sesuatu yang tidak diinginkan, seperti syahwat yang dikarenakan melihat lekuk tubuh yang terlalu transparan.
Aturan yang berada pada sumang peropohen dan sumang yang lainnya, tidak terlepas dari aturan-aturan agama Islam. Dikarenakan banyak ayat-ayat dan hadist-hadist yang mendukung aturan-aturan dalam sumang tersebut.
  1. Relevansinya dengan Syariat Islam

Agama Islam memperkenankan kepada setiap Muslim, bahkan menyuruh supaya geraknya baik, elok dipandang dan hidupnya teratur dengan rapi untuk menikmati perhiasan dan pakaian yang telah dicipta Allah. Adapun tujuan pakaian dalam pandangan Islam ada dua macam; yaitu, guna menutup aurat dan berhias. Ini adalah merupakan pemberian Allah kepada umat manusia seluruhnya, di mana Allah telah menyediakan pakaian dan perhiasan, kiranya mereka mau mengaturnya sendiri. Berikut firman Allah beserta hadist Rasul yang membahas tentang kewajiban menutup aurat.
  1. Surah An-Nur Ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ
وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

Tafsir Ayat

Apa yang diharamkan oleh Allah bagi mereka, yaitu memandang kepada selain suami mereka. Karena itulah kebanyakan ulama berpendapat bahwa wanita tidak boleh memandang lelaki lain yang bukan maramnya, baik dengan pandangan birahi atau tidak.
Perintah memelihara kemaluan, yaitu memelihara kemaluannya dari perbuatan keji (menurut sa’id ibnu jubair), sedangkan menurut qatadah dan sufyan adalah memelihara diri dari perbuatan yang tidak dihalalkan baginya (memeliharanya dari perbuatan zina).
Ayat ini juga menerangkan larangan menampakkan sesuatu dari perhiasannya kepada lelaki lain, kecuali apa yang tidak bisa disembunyikan. Menurut Ibnu Mas’ud, hal yang dimaksud adalah seperti kain selendang dan pakaiannya, yakni sesuai dengan tradisi pakaian kaum wanita arab yang menutupi seluruh tubuhnya, sedangkan bagian bawah pakaian yang kelihatan tidaklah berdosa jika ditampakkan.
Menurut ibnu mas’ud perhiasan itu ada dua macam yaitu:
  1. Perhiasan yang tidak boleh diperlihatkan kecuali hanya kepada suami (cincin dan gelang).
  2. Perhiasan yang boleh terlihat oleh lelaki lain, yaitu bagian luar dari pakaian.
إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Kecuali yang (biasa) tampak darinya
Ibnu Abbas dan para pengikutnya menafsirkan kalimat ini dengan wajah dan kedua telapak tangan. Pendapat inilah yang masyhur dikalangan ulama. Hal ini diperkuat oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud, bahwa telah menceritakan kepada kami Ya’qub Ibnu Ka’ab Al-Intaki Dan Muammal Ibnul Fadlal-Harrani; keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami al-Walid, dari Sa’id Ibnu Basyir, dari Qatadah Dari Khalid Ibnu Duraik, dari Aisyah r.a., bahwa Asma binti Abu Bakar masuk kedalam rumah nabi SAW, dengan memakai pakaian yang tipis, maka nabi memalingkan muka darinya seraya bersabda:
يَا أَسْمَاءُ إِنَّ اْلمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيْضِ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذاَ
Hai asma, sesungguhnya wanita itu apabila telah berusia baligh, tidak boleh ada yang terlihat dari tubuhnya kecuali hanya ini.
Nabi bersabda demikian seraya mengisyaratkan ke arah wajah dan kedua telapak tangannya.
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.
Kerudung yang dimaksud adalah kerudung panjang yang dapat menutupi dada dan bagian sekitarnya, agar berbeda dengan pakaian wanita jahiliyah. Karena sesungguhnya wanita jahiliyah tidak berpakaian demikian, bahkan seorang dari mereka lewat dihadapan laki-laki dengan membusungkan dadanya tanpa ditutupi sehelai kainpun. Adakalanya pula menampakkan lehernya dan rambut yang ada di dekat telinganya serta anting-antingnya. Maka Allah memerintahkan kepada wanita yang beriman agar menutupi seluruh tubuhnya.
أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ
Atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka.
Mereka yang disebutkan di atas adalah mahram wanita, mereka diperbolehkan memperlihatkan perhiasannya kepada orang-orang tersebut., tetapi bukan dengan cara tabarruj. Tidak disebutkan paman dari pihak ayah, tidak pula paman dari ibu; karena keduanya dinisbatkan kepada anak keduanya. Untuk itu seorang wanita tidak boleh meletakkan kain kerudungnya di hadapan pamannya, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Demikian itu karena dikhawatirkan keduanya akan menggambarkan pada anak-anak keduanya. Adapun terhadap suami, sesungguhnya hal tersebut hanyalah untuk suaminya. Karena itu, seorang wanita dianjurkan merias dan mempercantik dirinya di hadapan suaminya,dan tidak boleh di hadapan lelaki lain.
أَوْ نِسَائِهِنَّ
Atau wanita-wanita Islam.
Seorang wanita diperbolehkan menampakkan perhiasannya kepada wanita muslimat, bukan wanita kafir Dzimmi agar mereka tidak menceritakan keadaan kaum wanita muslimat kepada kaum laki-laki mereka. Adapun wanita muslimah, sesungguhnya ia mengetahui bahwa perbuatan menceritakan perihal wanita lain (kepada lelaki) adalah haram, sehingga ia menahan dirinya dari melakukan hal tersebut
أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ
Atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita).
Yakni seperti orang-orang sewaan dan para pelayan yang tidak sepadan. Selain dari itu akal mereka kurang dan lemah, tiada keinginan terhadap wanita pada diri mereka dan tidak pula berselera terhadap wanita. Ibnu abbas mengatakan, yang dimaksud adalah lelaki dungu yang tidak mempunyai nafsu syahwat. Mujahid mengatakan bahwa yang dimaksud adalah lelaki yang tolol. Sedangkan menurut ikrimah adalah laki-laki banci yang kemaluannya tidak dapat bereaksi.
أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Yakni anak-anak kecil mereka yang masih belum mengerti keadaan wanita dan aurat mereka seperti perkataannya yang lemah lembut lagi merdu, lenggak lenggoknya dalam berjalan, gerak-gerik, dan sikapnya. Apabila anak lelaki kecil masih memahami hal tersebut, maka ia boleh masuk menemui wanita.
Adapun jika seorang anak lelaki menginjak masa pubernya atau dekat usia pubernya yang telah mengenal hal tersebut dan ia dapat membedakan wanita yang jelek danwanita yang cantik, maka tidak diperkenankan lagi baginya masuk menemui wanita lain. Menemui saudara ipar juga dilarang oleh Rasulullah, Sebagaimana dalam kitab sahihain telah disebutkan sebuah hadis, Rasulullah bersabda “masuk menemui saudara ipar artinya maut.”
وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya.

Di masa jahiliah bila seorang wanita berjalan di jalan, sedangkan ia memakai gelang kaki; jika tidak ada laki-laki yang meihat dirinya, ia memukul-mukulkan kakinya ke tanah sehingga kaum lelaki mendengar suara gemerincing gelangnya (dengan maksud menarik perhatian mereka). Maka Allah melarang kaum wanita mukmin melakukan hal semacam itu. demikian pula halnya bila seorang wanita memakai perhiasan lainnya yang tidak kelihatan, bila digerakkan akan menimbulkan suara dan dapat menarik perhatian lawan jenisnya; hal ini pun termasuk ke dalam apa yang dilarang oleh Allah SWT. Termasuk ke dalam apa yang dilarang adalah memakai parfum bila keluar rumah, sebab kaum laki-laki akan mencium baunya.
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.
Artinya adalah, kerjakanlah segala sesuatu yang telah aku perintahkan kepada kalian, yaitu dengan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji dan akhlak-akhlak yang mulia ini. Tinggalkanlah tradisi masa lalu di zaman jahiliah, yaitu dengan meninggalkan sifat dan akhlaknya yang rendah, karena sesungguhnya keberuntungan yang paling prima berada dalam mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, hanya kepada Allah memohon pertolongan.
  1. An-Nahl 81

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ
Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).

Tafsir ayat

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالا
Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan
Menurut qatadah, makna yang dimaksud adalah pohon.
وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا
Dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung
Yaitu benteng-benteng dan tempat-tempat perlindungan. Seperti juga yang disebutkan dalam firman selanjutnya.
وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ
dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas.
Maksudnya adalah pakaian yang terbuat dari katun, kapas dan bulu.
وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ
dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan.
Pakaian jenis ini adalah seperti baju besi, tameng, dan lain sebagainya yang digunakan untuk melindungi diri dalam peperangan.
كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ
Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).
Artinya, demikianlah dia menjadikan bagi kalian apa yang dapat kalian jadikan sebagai sarana untuk urusan kalian, dan apa yang kalian perlukan agar hal tersebut dapat dijadikan sebagai sarana bagi kalian untuk mengerjakan ketaatan dan beribadah kepada-Nya.
Lafadz تُسْلِمُونَ menurut tafsir jumhur ulama, dibaca dengan huruf lam yang di-kasrah-kan, yang berasal dari kata إِسْلاَم. Abdullah Ibnul Mubarak dan Abbad ibnul Awam telah meriwayatkan dari Hnzalah as-Sadusi, dari Sahr ibnu Hausyab, dari ibnu Abbas, bahwa ibnu Abbas membacanya dengan huruf lam yang di-fathah-kan, yakni agar kalian selamat dari pelukan. Abu Ubaid al-Qasim ibnu Salam telah meriwayatkan asal ini dari Abbad. Ibnu Jarir mengetengahkannya dari dua jalur, dan ia menjawab qira’at ini.
Qatadah mengatakan bahwa surat ini dinamakan “surat an-Ni’am” karena beliau melihat dari firman-Nya كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ. Ata al-Khurrasani mengatakan, sesungguhnya al-Qur’an ini diturunkan hanya sebatas pengetahuan orang-orang Arab. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa tidakkah engkau melihat firman Allah Swt. berikut:
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا
Dan Allah menjadikan bagi kalian tempat barnaung dari apa yang telah diciptakan, dan dia jadikan bagi kalian tempat-tempat tinggal di gunung-gunung.
Padahal lembah atau daratan rendah yang diciptakan oleh Allah Swt. jauh lebih luas dan lebih besar daripada pegunungan. Dikatakan demikian karena mereka (orang-orang Arab) adalah orang-orang pegunungan.
  1. Al-A’raf 26

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak-cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan untuk kamu pakaian yang dapat menutupi aurat-auratmu dan untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
  1. Al-Ahzab 59

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمً
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
  1. An-Nur 60

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ ۖ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.
  1. Al-Ahzab 55

لَا جُنَاحَ عَلَيْهِنَّ فِي آبَائِهِنَّ وَلَا أَبْنَائِهِنَّ وَلَا إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ إِخْوَانِهِنَّ وَلَا أَبْنَاءِ أَخَوَاتِهِنَّ وَلَا نِسَائِهِنَّ وَلَا مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ ۗ وَاتَّقِينَ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدًا
Tidak ada dosa atas isteri-isteri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.
  1. Muslim

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ « لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ »
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu anhu bahwa Rasulallah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Seorang laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki lain, dan begitu juga seorang perempuan tidak boleh melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang laki-laki bercampur dengan laki-laki lain dalam satu pakaian, dan begitu juga perempuan dengan perempuan lain bercampur dalam satu pakaian.”
  1. al-Bukhari

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab shahihnya:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.”
  1. Al-A’raf 27

{ يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ }
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaithan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaithan-syaithan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.
  1. Abu Saa’id Al Khudry

Rasullullah SAW bersabda:
( لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ …)
“Laki-laki tidak boleh melihat aurat laki-laki, wanita tidak boleh melihat aurat wanita”.
  1. Imam Abu Daawud

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
“laki-laki yang memakai pakaian perempuan dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki”.
  1. Imam Al Hakim

( ما بين السرة إلى الركبة عورة)
“Apa-apa diantara pusat dan lutut adalah aurot.”
  1. Imam Muslim

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Artinya:
“Dua golongan termasuk dari penghuni neraka yang belum pernah aku melihatnya:
  1. Kaum, bersama mereka cemeti bagaikan ekor sapi. Dengannya mereka pukuli orang-orang.
  2. Wanita, mereka berpakaian tetapi mereka telanjang. Mereka melenggak-lenggok dan diatas kepala mereka bagaikan punuk unta.
Mereka itu tidak akan masuk kedalam surga, bahkan tidak akan mencium baunya surga. Padahal baunya surga bisa menembus jarak sekian dan sekian (70 tahun).”
Dalam Hadits ini dapatlah diambil pelajaran bahwa Jilbab wanita hendaknya tidak membentuk lekuk tubuh atau yang mengesankan bentuk tubuh atau yang menampakkan tubuhnya, betapapun dia berpakaian. Terlebih lagi seperti yang “trendy” saat ini dalam berbagai kalangan wanita, mode pakaian menjadi khas, selalu mengesankan bentuk tubuhnya hingga seolah tubuh wanita telanjang yang berjalan. Untuk bagian atas kepala hingga pundak, hendaknya membentuk mirip kemah, sehingga tidak nampak lekukan leher yang mengesankan bahwa wanita itu bersanggul atau tidak, berambut panjang atau tidak, berleher panjang ataukah tidak.

      Hasil Analisis

Setelah kami melakukan penelitian dengan cara mewawancarai narasumber yang mengetahui
tentang seluk beluk Gayo, kami mendapatkan bahwa sumang itu memang ada sejak zaman dahulu nenek moyang kita. Dan segala aturan yang terdapat dalam sumang, sesuai dengan ajaran syariat Islam. Contoh sumang peropohen yaitu:
  1. Memakai opoh kerung atau sarung. Walaupun sudah memakai rok di dalamnya, kita di anjurkan untuk memakai sarung lagi. Terutama di depan orang yang lebih tua. Hal ini agar terlihat sopan dan seperti menghargai orang yang lebih tua yang berada di depan kita.
  2. Memakai pakaian yang tidak ketat dan menampakkan lekuk tubuh. Dianjurkan memakai pakaian yang tebal dan longgar sehingga tidak tembus pandang dan menampakkan lekuk tubuh wanita.
  3. Tidak boleh memakai celana yang ketat apabila di depan orang tua atau muhrim kita. Namun, diizinkan apabila memakai celana yang longgar dan sopan.
  4. Memakai kerudung. Dan kerudung di perintahkan panjangnya sampai menutupi dada wanita.
Aturan-aturan diatas berlaku pada saat wanita keluar rumah, di depan orang tua, dan di depan lelaki yang muhrimnya. Seperti yang kita ketahui, bahwasanya aturan-aturan yang terdapat dalam sumang tersebut sesuai dengan Al-qur’an dan hadits. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Gayo telah lama menerapkan syariat Islam.

REFERENCES

Hamka, Tafsir al Azhar Juz 14,( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), 230.
Al Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir Juz 14,( Bandung: Sinar
Baru Algensindo, 2003), 122.
Al Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Kasir, Tafsir Ibnu Kasir…,123.
Imam Jalaludin al Mahali, Tafsir Jalalain…,1073.
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir,ter. Abu Bakar, (Bandung: Algensisindo, 2004), hal287
Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah (Jakarta: Lentera hati, 2002), hal 78

Bigssmart

im smart with you dayat

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.