Soal Fiqih

Spread the love
PERTANYAAN
  1. Jelaskan dasar hukum nikah serta uraikan hikmah pernikahan!
  2. Jelaskan pengertian mahar dan macam-macam mahar!
  3. Jelaskan syarat-syarat menjadi wali nikah!
  4. Jelaskan dasar hukum haram dinikahi (mahram) serta apa hikmah dari keharaman tersebut!
JAWABAN
  1. Jelaskan dasar hukum nikah serta uraikan hikmah pernikahan ?
  1. DASAR HUKUM PERNIKAHAN
Pada dasarnya islam sangat menganjurkan umatnya untuk menikah. Namun dikarenakan perbedaan kondisi dan kesejahteraan hidup, maka islam membagi hukum pernikahan kedalam lima bagian yaitu:
  1. Sunnah, bagi orang yang ingin menikah dan mempunyai biaya sehingga dapat memberikan nafkah kepada istrinya dan keperluan-keperluan lain yang mesti dipenuhi.
  2. Wajib, bagi orang yang mampu melaksanakan pernikahan dan kalau tidak menikah ia akan terjerumus dalam perzinaan.
  3. Makruh, bagi orang yang tidak mampu untuk melaksanakan pernikahan karena tidak mampu memberikan belanja kepada istrinya atau kemungkinan lain lemah syahwat.
  4. Haram, bagi orang yang ingin menikahi dengan niat untuk menyakiti istrinya atau menyia – nyiakannya. Hukum haram ini juga terkena bagi orang yang tidak mampu memberi belanja kepada istrinya, sedang nafsunya tidak mendesak.
  5. Mubah, bagi orang-orang yang tidak terdesak oleh hal-hal yang mengharuskan segera nikah atau yang mengharamkannya.
Kemudian ada juga dasar hukum perkawinan menurut Fiqh Munakahat, yaitu:
  1. Dalil Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa Ayat 3 sebagai berikut yang artinya: ” Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan lain yang kamu senangi, dua, tiga atau empat dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil, cukup satu orang.” (An-Nisa : 3).
Ayat ini memerintahkan kepada orang laki – laki yang sudah mampu untuk melaksanakan nikah. Adapun yang dimaksud adil dalam ayat ini adalah adil didalam memberikan kepada istri berupa pakaian, tempat, giliran dan lain – lain yang bersifat lahiriah. Ayat ini juga menerangkan bahwa islam memperbolehkan poligami dengan syarat – syarat tertentu.
  1. Dalil As-Sunnah
“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu untuk menikah, maka segeralah menikah, karena nikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan.” (Muttafaqun alaihi)
b.HIKMAH PERNIKAHAN
  1. Pernikahan dapat menentramkan jiwa dan menghindarkan diri dari zina dan perbuatan maksiat lainnya.
  2. Pernikahan merupakan suatu jalan yang baik untuk melanjutkan keturunan.
  3. Bisa saling melengkapi dan ada teman hidup yang selalu menemani kita di semua kondisi.
  4. Menimbulkan tanggung jawab dan menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam mencukupi keluarga.
  5. Adanya pembagian tugas, yang satu mengurusi rumah tangga dan yang lain bekerja diluar.
  6. Menumbuhkan tali kekeluargaan dan mempererat hubungan.
  7. Memperbanyak saudara.
2.Mahar
  1. PENGERTIAN MAHAR
Mahar secara bahasa (etimologi) adalah mas kawin. Adapun secara istilah (terminologi) mahar adalah suatu pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan disebabkan terjadinya pernikahan. Pemberian mahar merupakan sebuah lambang kesungguhan suami terhadap istrinya, cerminan kasih sayang dan kemudian suami hidup bersama istri dan juga merupakan penghormatan suami terhadap istrinya.
Banyak sedikitnya mahar tidak di tentukan oleh agama. Tetapi itu merupakan kesepakatan bersama diantara kedua pihak yaitu pihak pria dan wanita.
  1. MACAM-MACAM MAHAR
Jumhur ulama‟ fiqh berpendapat bahwa mahar secara umum terbagi menjadi dua, yakni:
  1. Mahar Musamma
Yaitu mahar yang sudah disebut atau dijanjikan kadar dan besarnya ketika akad nikah. Atau, mahar yang dinyatakan kadarnya pada waktu akad nikah. Ulama fiqh sepakat bahwa dalam pelaksanaannya, mahar musamma harus diberikan secara penuh apabila:
  1. Telah bercampur (bersenggama).
  2. Putusnya ikatan nikah karena sebab tertentu.
  1. Mahar Mitsil
Yaitu mahar yang tidak disebutkan besar kadarnya pada saat sebelum ataupun ketika terjadi pernikahan. Atau mahar yang diukur dengan mahar yang pernah diterima oleh keluarga terdekat atau tetangga sekitarnya dengan memperhatikan status sosial, kecantikan dan sebagainya.
  1. SYARAT-SYARAT MENJADI WALI NIKAH
  2. Islam, tidak sah kafir jadi walinya perempuan
  3. Laki-laki.
  4. Berakal sehat.
  5. Tidak terpaksa.
  6. Adil (bukan fasiq)
  7. Tidak sedang ihram
 4.
  1. DASAR HUKUM HARAM DINIKAHI MAHRAM
Telah dijelaskan dalam surah AN-Nisa yang artinya: “ Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu- ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan terpisah susuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari keluarga yang kamu campuri mengawininya, (diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua permpuan bersaudara, kecuali yang telah dilaporkan pada masa lampau, semoga Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “(QS. An-Nisa: 23)
Ketentuan ini berlaku untuk laki-laki. Dan bagi perempuan berlaku sebaliknya, yaitu haram bagi mereka menikahi ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki dan seterusnya.
  1. HIKMAHNYA
Menikah dengan kerabat dekat adalah media untuk memunculkan sifat-sifat atau penyakit yang tersembunyi dan menyuburkannya pada keturunan. Akibatnya, keturunan tersebut akan mengalami gangguan kesehatan, baik tubuh maupun akal.
Para pakar genetika mengatakan, pernikahan antarkerabat level pertama dapat menurunkan 50 persen penyakit dan cacat genetik ke generasi yang akan datang. Sedangkan pernikahan antarkerabat level kedua dapat mewariskan 12 persen penyakit dan cacat genetik tersebut. Adapun pernikahan antarkerabat level ketiga, hanya mewariskan 6 persen penyakit dan cacat genetic. Sedangkan pada pernikahan antarkerabat level keempat, potensi pewarisan penyakit dan cacat genetik kepada generasi berikutnya, semakin berkurang.
Disisi lain, Air Susu Ibu (ASI) membentuk struktur tubuh manusia, membuat daging si bayi tumbuh dan membentuk tulang. Hadits Rasulullah menyatakan hal tersebut: ”Tidak ada hukum yang berkenaan dengan menyusui kecuali kalau menyusui tersebut berpengaruh pada pembentukan tulang dan pertumbuhan daging’. (HR. Abu Daud) Hal ini terjadi apabila si bayi hanya makan dari ASI saja. Dengan demikian ibu yang menyusuinya menjadi ibu bagi bayi tersebut. Karena si bayi bagian dari darah daging ibu yang menyusui. Ketika menyusui, faktor-faktor keturunan dan daya imun terbawa pindah dari ibu yang menyussui ke anak yang disusui. Dalam tubuh si bayi faktor-faktor tersebut bergabung dengan gen si bayi. Hal ini menyebabkan ada kesamaan gen antara bayi yang disusui oleh satu ibu. Apabila terjadi pernikahan antara keduanya maka akan menimbulkan hal-hal yang buruk di keturunannya.
REFERENSI
Prof. Dr. Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia : Antara Fiqh Munakahat dan Undang – Undang Perkawinan, (Jakarta : Kencana, 2009),
Syekh Muhammad Sholeh Al-Utsaiin, Syekh Abdul Aziz Ibn Muhammad Dawud, Pernikahan Islami : Dasar Hidup Beruah Tangga, (Surabaya : Risalah Gusti 1991), hlm. 29
Drs. Slamet Abidin, Drs. H. Aminudin : Fiqh Munakahat I, (Bandung : CV Pustaka Setia, 1999),
Umul Baroroh, Fiqh Keluarga Muslim Indonesia, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya 2015),
M.A. Tihami dan Sohari Sahrani, Fiqh Munakahat Kajian Fikih Nikah Lengkap, (Jakarta: Rajawali Press 2010),

Bigssmart

im smart with you dayat

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.