Pengetahuan Sains: Filsafat Ilmu

Spread the love

Pengertian

          Filsafat ilmu merupakan salah satu mata pelajaran yang dibutuhkan oleh mahasiswa karena dalam mata peajaran tersebut mahasiswa tidak hanya belajar mengenai bagaimana seorang guru harus bersikap terhadap anak didiknya namun bagaimana seorang guru harus bersikap dalam kemasyarakatan yang memiliki suatu sikap dan fikiran yang berbeda satu dengan lainnya. oleh karena itu filsafat ilmu dijadikan “Mother of  Science”  dengan demikian makalah ini kami buat untuk memenuhi kebutuhan dari mahasiswa mengenai filsafat ilmu yang berkaitan dengan pengetahuan sains.
          Menyadari pentingnya peran dari filsafat ilmu dalam konteks pengetahuan sains maka makalah ini menyebutkan beberapa hal tentang hakikat dalam pengetahuan sains, ontologi sains, dan epistimologi sains sehinggga diharapkan dapat menembah pengetahuan dan pemikiran-pemikiran yang lebih baik dari sebelumnya tidak hanya para mahasiswa namun juga masyarakat umumnya.

1. Ontologi Sains

          Poedjawijatna  mendifinisikan filsafat sebagai jenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya  bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka, sedangkan Bakry mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis  pengetahuan  yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

2. Hakikat pengetahuan Sains

          Pertama , maslah rasioanal . Dalam sains , pernyataan atau hipotesis yang dibuat haruslah berdasarkan rasio. Misalnya hipotesis yang dibuat adalah “makan telur ayam berpengaruh positif terhadap kesehatan “. Hal ini berdasrkan rasio : untuk sehat diperlukan gizi, telur ayam banyak mengandung nilai gizi , karena itu , logis bila semakin banyak makan telur  ayam akan semakin sehat.
         Hipotesis ini belum diuji kebenarannya. Kebenarannya barulah dugaan. Tetapi hipotesis itu telah mencukupi syarat dari segi kerasionalanya. Kata “rasional “ disini menunjukan adanya hubungan pengaruh atau hubungan sebab akibat.
          Kedua , masalah empiris. Hipotesis yang dibuat tadi diuji ( kebenaranya ) mengikuti prosedur metode ilmiah. Untuk  menguji hipotesis ini digunakan metode eksperimen. Misalnya pada contoh hipotesis diatas, pengujianya adalah dengan cara mengambil satu kelompok sebagai sampel, yang diberi makan telur ayam secara teratur selama enam bulan, sebagai kelompok eksperimen. Demikian juga, mengambil satu kelompok  yang lain, yang tidak boleh makan telur  ayam selama enam bulan sebagai kelompok kontrol. Setelah enam bulan , kesehatan kedua kelompok diamati. Hasilnya , kelompok yang teratur makan telur ayam rata-rata lebih sehat.
          Setelah terbukti ( sebaiknya eksperimen dilakukan berkali-kali ), maka hipotesis yang dibuat tadi berubah menjadi teori. Teori “ makan telur ayam berpengaruh terhadap kesehatan “ adalah teori yang rasional – empiris. Teori seperti ini disebut sebagai teori ilmiah (scientific theory).
         Cara kerja dalam memperoleh teori tadi adalah cara kerja  metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah : logico – hypotheticom – verificatif ( buktikan bahwa itu logis – tarik hipotesis – ajukan bukti empiris ) .
          Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab akibat, atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar  sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab . Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional.

3. Struktur Pengetahuan Sains

Ahmad Tafsir, membagi sains menjadi dua, yaitu sains kealaman dan sains sosial. Dalam makalh ini hanya ditulis beberapa ilmu:
  1. Sains Kealaman

             Astronomi
             Fisika : mekanika, bunyi, cahaya, dan optik, fisika nuklir
             Kimia : kimia organik, an organik , kimia teknik
             Ilmu bumi : paleontologi, geofisika, mineralogi, geografi
             Ilmu hayat : biofisika, botani zoologi
  1. Sains Sosial

             Sosiologi : sosiologi pendidikan , sosiologi komunikasi
             Antropologi : antropologi budaya, antroplogi politik, antropologi ekonomi
             Psikologi: psikologi pendidikan, psikologi anak , psikologi abnormal
             Ekonomi : ekonomi makro, ekonomi lingkungan
             Politik : politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional

3. EPISTIMOLOGI SAINS

  1. Pengertian Epistimologi

Epistimologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan . Epistimologi menjelaskan pertanyaan- pertanyaan seperti : bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan ? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Lalu benar itu sendiri apa ? Kriterianya apa saja.
  1. Objek Pengetahuan Sains

Objek pengetahuan sains (yaitu objek-objek yang diteliti sains ) ialah semua objek yang empiris. Jujun S. Suriasumantri (filsafat ilmu : Sebuah pengantar populer,  1994 : 105 ) menyatakan bahwa objek kajian sains hanyalah objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud pengalaman disini ialah pengalaman indera.

1. Indera

          Indera digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan  disekitar kita. Indera ada bermacam-macam ;  yang paling pokok ada lima (panca indera), yakni indera penglihatan(mata) yang memungkinkan kita mengetahui warna, bentuk, dan ukuran suatu benda ; indera pendengaran (telinga ) yang membuat kita membedakan macam-macam suara ; indera penciuman (hidung ) untuk membedakan bermacam-macam bau-bauan ; indera perasa (lidah) yang membuat kita bisa membedakan makanan enak dan tidak enak ; dan indera peraba (kulit ) yang memungkinkan  kita mengetahui suhu lingkungan dan kontur suatu benda.
          Pengetahuan lewat indera disebut juga pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yang berlebih kepada alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, bahkan satu-satunya sumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisme, mengenai kebenaran pengetahuan jenis ini, seorang empiris sejati mengatakan indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, dan pengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar.
          Tetapi mengandalkan pengetahuan semat-mata kepada indera jelas tidak mencukupi. Dalam banyak kasus, penangkapan indera seringkali tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya pensil dimasukan yang dimasukan ke dalam air terlihat bengko padahal sebelumny lurus. Benda yang  jauh terlihat kecil , padahal ukuran sebenarnya lebih besar. Bunyi yang terlalu lemah atau terlalu keras tidak bisa lita dengar. Belum lagi kalau alat indera kita bermasala , sedang sakit  atau sudah rusak, maka kian sulitlah kita mengandalkan indera untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.

2. Akal

Akal atau rasio merupakan fungsi dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala yakni otak. Akal mampu menambal kekurangan yang ada pada indera. Akal lah yang bisa memastikan bahwa pensil dalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun tampaknya sabit. Keunggulan akal yang paling utama adalah kemampuanya menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu , tanpa terikatpada fakta-fakta khusus. akal bisa mengetahui hakikat umum dari kucing, tanpa harus mengkaitkanya dengan kucing tertentu yang ada dirumah tetangganya, kucing hitam, kucing garong, atau kucing-kucingan.

3. Hati dan Intuisi

Organ fisik yang berkaitan dengan fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti; ada yang menyebut jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi muncul berupa pengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa melaui proses penalaran yang  jelas ,non-analitis, dan tidak selalu logis. Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan , baik saat santai maupun tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah jalan- jalan di trotoar, saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur, atau saat kita menikmati pemandangan alam.

4. Logika

Logika adalah cara berfikir atau penalaran menuju kesimpulan yang  benar. Aristoteles memperkenalkan dua bentuklogika yang sekarang kita kenal dengan istilah deduksi dan induksi. Logika deduksi, dikenal juga dengan nama silogisme, adalah menarik kesimpulan.  Dari pernyataan umum atas hal yang khusus. Contoh  terkenal dari silogisme adalah :
             Semua manusia akan mati (pernyataan umum, premis mayor )
             Isnur manusia (pernyatan antara ,premis minor)
             Isnur akan mati (kesimpulan , Konklusi)
Logika induksi adalah kebalikan dari deduksi, yaitu menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang bersifat khusus menju pernyataan umum. Contoh :
             Isnur adalah manusia, dan ia pasti akan mati(pernyataan khusus)
             Muhamad , Asep, dll adalah manusia, dan semuanya mati (pernyataan antara)
             Semua manusia akan mati (kesimpulan )
Objek-objek yang dapat diteliti oleh sains banyak sekali : alam, tetumbuhan , hewan, dan manusia, serta kejadian-kejaadian sekitar alam, tetumbuhan, hewan dan manusia itu ; semuanya dapat diteliti oleh sains.
  1. Cara Memperoleh Pengetahuan Sains

Memperoleh sains didorong oleh paham Humanisme. Humanisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Humanisme telah muncul pada zaman Yunani lama (kuno).
Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuanya diukur dengan akal pula.
Empirisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris. Positivisme  mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis ,ada bukti empirisnya, yang terukur. “terukur” inilah sumbangan penting positivisme. Metode ilmiah mengatakan , untuk memperoleh yang benar dilakukan langkah berikut : logico-hypothetico-verificatif. Maksudnya , mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara empiris.
  1. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains

Ada teori sains ekonomi : bila penawaran sedikit , permintaan banyak , maka harga akan naik. Teori ini sangat kuat, karena kuatnya  maka ia ditingkatkan menjadi hukum , disebut hukum penawaran dan permintaan. Jika teori itu selalu didukung bukti empiris, maka teori itu naik tingkat keberadaannya menjadi hukum atau aksioma.
Hipotesis (dalam Sains) ialah pernyataan yang sudah benar secara logika , tetapi belum ada bukti empirisnya.
             Teori –teori kebenaran :
  1. Korespondesi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau kenyataan. Contoh pernyataan “bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang ditempatinya”, adalah benar karena kenyataannya demikian. “Kota Jakarta ada di pulau Jawa “ adalah benar karena sesuai dengan fakta (bisa dilihat di peta ). Korespondesi memakai  logika induksi.
  1. Koherensi
Sebuah pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan  sebelumnya yang dianggap benar. Contoh pernyataan “Asep akan mati “ sesuai (koheren ) dengan pernyataan sebelumnya bahwa “semua manusia akan mati” dan “Asep adalah manusia”. Terlihat disini, logika yang dipakai dalam koherensi adalah logika deduksi.
  1. Pragmatik
Sebuah pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional ) dalam situasi praktis. Kebenaran pragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara koherensi dan korespondesi. Jika ada dua teori keilmuan yang sudah memenuhi kriteria dua teori diatas , maka yang diambil adalah teori yang lebih mudah dipraktekan. Agama dan seni bisa cocok jika diukur dengan teori kebenaran ini. Agama ,dengan satu peryataannya misalnya “Tuhan ada”, adalah benar secara pragmatik ( adanya Tuhan berguna untuk menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikanya teratur ), lepas dari apakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak, konsisten dengan pernyataan sebelumnya atau tidak.

D.AKSIOLOGI  SAINS

Menurut bahasa Yunani , aksiologi berasal dari kata Axios artinya nilai dan logos artinya teori atau ilmu. Jadi , aksiologi adalah teori tentang nilai. Berikut ini dijelaskan beberapa definisi aksiologi.
Menurut Suriasumantri (1990:234) aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang  diperoleh.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia(1995:19) aksiologi adalah ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.
Menurut Wibisono (dalam Surajiyo, 2009:152) aksiologi adalah nilai-nilai sebagai tolak ukur kebenaran, etika dan moral sebagai dasar normatif penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu. Aksiologi adalah ilmu  yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat,  dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkanya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dijalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan dijalan yang tidak benar. Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan  oleh masyarakat  dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.
  1. Kegunaan Pengetahuan Sains
  2. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak, dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran dan kesucian.
  3. Nilai sebagai kata benda konkret. Contohnya, ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai. Ia sering dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai , seperti nilainya atau nilai dia.
  4. Nilai juga dipakai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai atau dinilai.
Dari definisi aksiologi diatas ,terlihat dengan jelas bahwa permasalahan utama  adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada masalah etika dan estetika.
Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika dimana makna etika memiliki dua arti yaitu merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia ddan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan perbuatan , tingkah laku, atau yang lainya.
Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung  pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolok ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapatindividu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya , nilai menjadi subjektif ,apabila subjek berperan dalam memberi penilaian , kesadaran manusia menjadi tolok ukur penilaian . dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka , senang atau tidak senang.
Kemudian bagaimana dengan nilai dalam ilmu pengetahuan. Perkembangan  dan kemajuan ilmu pengetahuan telah menciptakan berbagai bentuk kemudahan bagi manusia. Namun apakah hal itu selalu demikian? Bahwa ilmu pengetahuan dan teknologinya merupakan berkah dan penyelamat bagi manusia, terbebas dari kutuk yang membawa malapetaka dan kesengsaraan? Memang mempelajari teknologi seperti bom atom , manusia bisa memanfaatkan  wujudnya sebagai sumber energi bagi keselamatan umat manusia, tetapi dipihak lain hal ini bisa juga berakibat sebaliknya, yakni membawa manusia pada penciptaan bom atom yang menimbulkan malapetaka. Menghadapi hal yang demikian , ilmu pengetahuan yang pada esensinya mempelajari alam sebagaimana adanya, mulai dipertanyakan untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Berkenaan dengan nilai guna ilmu, tak dapat dibantah lagi bahwa ilmu itu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manisia, dengan ilmu seseorang dapat mengubah wajah dunia.
Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun.S.Sumantri yaitu bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan “ apakah kekuasaan itu merupakan berkat atau justru malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun terjadi malapetaka yang disebabkan  oleh ilmu, bahwa kita kita tidak bisa mengatakan bahwa itu merupakan kesalahan ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya, lagipula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakanya.
Yang dimaksud teknik disini adalah penerapan ilmu  dalm berbagai pemecahan masalah yang terjadi tujuan ialah bukan saja untuk mempelajari dan memahami berbagai faktor yang berkaitan dengan masalah-masalah manusia, tetapi juga untuk mengontrol dan mengarahkanya. Hal ini berakhirnya babak awal ketersinggungan ilmu dengan moral. Pada  masa selanjutnya , ilmu kembali dikaitkan dengan masalah moral yang berbeda. Yaitu berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah. Maksudnya terdapat beberapa penggunaan teknologi yang justru merusak kehidupan manusia itu sendiri. Dalam menghadapi masalah ini, para ilmuwaan terbagi menjadi dua pandangan. Kelompok pertama memandang bahwa ilmu harus bersifat netral dan terbebas dari berbagai masalah yang dihadapi pengguna. Yang dimaksud teknik disini adalah penerapan ilmu dalam berbagai pemecahan masalah. Yang menjadi tujuan ialah bukan masalah-masalah manusia , tetapi juga untuk mengontrol. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalah meneliti dan menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain  akan menggunakan  pengetahuan tersebut atau tidak , atau digunakan untuk tujuan yang baik atau tidak.
Kelompok lainya memandang  bahwa netralitas ilmu hanya pada proses penemuan ilmu saja. Dan tidak pada hal penggunaanya . Bahkan pada pemilihan bahan penelitian , seorang ilmuawan harus berlandaskan pada nilai-nilai moral. Kelompok ini mendasarkan pandangannya pada beberapa hal, yakni :
  1. Sejarah telah membuktikan bahwa ilmu dapat digunakan sebagai alat penghancur peradapan , hal ini dibuktikan dengan banyaknya perang yang menggunakan teknologi-teknologi keilmuwan.
  2. Ilmu telah berkembang dengan pesat dan para ilmuwan lebih mengetahui akibat-akibat yang mungkin terjadi serta pemecahan -pemecahanya , bila terjadi penyalahgunaan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas , maka kelompok kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat manusia.
Berbicara masalah ilmu dan moral memang sudah sangat tidak asing lagi, keduanya memiliki keterkaitan yang sangat kuat. Ilmu bisa menjadi malapetaka kemanusiaan jika seseorang yang memanfaatkan nya “tidak bermoral “ atau paling tidakmengindahkan nilai-nilai moral yang ada. Tapi sebaliknya ilmu akan menjadi rahmat bagi kehidupan manusia secara benar dan tepat , tentunya tetap mengindahkan  aspek moral. Dengan demikian kekuasaan ilmu ini mengharuskan seseorang ilmuwan yang memiliki landasan moral yang kuat, ia harus tetap memegang ideologi dalam mengembangkan dan memanfaatkan keilmuwannya. Tanpa landasan dan pemahaman terhadap nilai-nilai moral, maka seorang ilmuwan bisa menjadi “monster” yang setiap saat bisa menerkam manusia, artinya bencana kemanusiaan bisa setiap saat terjadi. Kejahatan yang dilakukan  oleh orang  yang berilmu itu jauh lebih jahat dan membahayakan dibandingkan kejahatan orang  yang tidak berilmu (bodoh). Kita berharap semoga hal ini bisa disadari oleh para ilmuwan , pihak pemerintah,  dan pendidik agar dalam proses transformasi ilmu pengetahuan tetap mengindahkan aspek moral. Karena ketangguhan suatu bangsa bukan hanya ditentukan oleh ketangguhan  ilmu pengetahuan tapi juga oleh ketangguhan moral warga. Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata yunani yaitu : axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai.
  1. Cara sains Menyelesaikan Masalah
Yaitu  pertama ,ia mengidentifikasi masalah. Kedua ,ia mencari teori tentang sebab-sebab masalah tersebut. Ketiga ,ia kembali membaca literature lagi.
  1. Netralitas Sains
Menurut John Sinclair , dalam lingkup kajian filsafat  nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial, agama.
Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik baru karena kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai  Netralitas pengetahuan (value free) . Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value baound. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
  1. Pengetahuan sains adalah pengetahuan yang bersifat rasional empiris.
  2. Sruktur sains dibagi menjadi sains kealaman dan sains sosial.
  3. Filsafat adalah pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu sedalam-dalamnya sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentan g bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
  4. Filsafat terdiri atas tiga cabang besar, yaitu : Ontologi, epistimologi, dan Aksiologi.
  5. Sains merupakan ilmu yang bersifat rasional empiris yakni sesuai logika dan teori sesuai dengan kenyataan, sedangkan filsafat adalah ilmu yang hanya logis tapi tidak empiris

Bigssmart

im smart with you dayat

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.